
Segala puji bagi Allah SWT, Tuhan semesta alam yang telah memberikan kita nikmat iman, Islam, serta kesempatan untuk kembali mendekat kepada-Nya melalui syariat kurban. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Baginda Nabi Muhammad SAW.
Hadirin yang dirahmati Allah, penyembelihan hewan kurban bukan sekadar ritual tahunan atau sekadar berbagi daging. Di baliknya, terdapat filosofi mendalam yang menjadi fondasi ketakwaan kita.
Secara etimologi, Kurban berasal dari kata Qaruba yang berarti “dekat”. Secara filosofis, kurban adalah upaya kita untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan cara menanggalkan penghalang-penghalang spiritual.
Menyembelih Ego: Hewan yang kita sembelih adalah simbol dari sifat-sifat kebinatan dalam diri manusia—seperti rakus, tamak, mau menang sendiri, dan keras hati. Dengan berkurban, kita berikrar bahwa hanya Allah-lah yang Maha Besar, dan ego kita harus tunduk di bawah perintah-Nya.
Wujud Cinta Tertinggi: Berkurban mengajarkan kita bahwa cinta kepada Sang Khalik harus melampaui cinta kepada makhluk dan harta benda, sebagaimana Nabi Ibrahim AS yang rela mengikhlaskan putra tercintanya, Ismail AS.
Allah SWT dan Rasul-Nya memberikan penekanan luar biasa pada ibadah ini:
Pembeda Ketakwaan: Allah berfirman dalam QS. Al-Hajj ayat 37:
“Daging (hewan kurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaanmu.”
Amalan yang Paling Dicintai: Rasulullah SAW bersabda bahwa tidak ada amal anak Adam pada hari raya Idul Adha yang lebih dicintai Allah selain mengalirkan darah (berkurban).
Saksi Kebaikan di Akhirat: Setiap helai bulu dari hewan yang dikurbankan akan menjadi satu kebaikan (pahala) dan menjadi saksi bagi pemiliknya di hari pembalasan.
Dimensi Sosial: Kurban adalah jembatan persaudaraan. Ia memastikan bahwa pada hari raya, tidak ada satu pun rumah kaum dhuafa yang tidak mencium aroma daging, sehingga kebahagiaan menjadi milik bersama, bukan milik si kaya saja.
Mari kita jadikan momentum kurban tahun ini bukan hanya sebagai rutinitas ibadah lahiriah, tapi sebagai sarana menyucikan jiwa. Jika kita belum mampu berkurban dengan hewan, mulailah dengan “berkurban” perasaan, waktu, dan tenaga untuk kebaikan sesama.
Semoga Allah menerima amal ibadah kita dan menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang bertakwa.
| Luas Bangunan | 144 m2 |
| Status Lokasi | Wakaf |
| Tahun Berdiri | 1980 |