
Majalaya – Suasana khidmat menyelimuti ruang utama Masjid Baitul Akbar pada Ahad pagi (10/04/2026). Lebih dari 70 jamaah hadir memenuhi shaf untuk mengikuti agenda rutin pengajian bulanan yang dimulai pukul 09.30 hingga 11.30 WIB.
Menghadirkan narasumber Ust. Mumuh Muhtadin, S.Ag., SS, pengajian kali ini mengangkat tema krusial pasca-lebaran: “Syawal, Saatnya Menjaga Lentera Hati Pasca Madrasah Ramadhan”.
Dalam tausiyahnya, Ust. Mumuh menekankan bahwa Ramadhan adalah sebuah sekolah (madrasah) yang melatih kedisiplinan spiritual. Namun, ujian sesungguhnya justru ada di bulan Syawal. “Ramadhan telah menyalakan lentera di hati kita. Tugas kita sekarang di bulan Syawal bukan sekadar merayakan kemenangan, tapi memastikan api lentera itu tidak padam diterpa angin kelalaian,” pesannya di hadapan jamaah.
Acara berlangsung interaktif dan ditutup dengan sesi tanya jawab yang dinamis. Beberapa jamaah berkonsultasi mengenai tips menjaga konsistensi ibadah sunnah hingga bagaimana cara menghadapi tantangan lingkungan kerja agar tetap religius seperti saat bulan puasa.
Ramadhan bukan sekadar ritual menahan lapar, melainkan proses pendidikan karakter (Madrasah) untuk membentuk pribadi yang bertaqwa.
Keberhasilan seseorang di bulan Ramadhan dilihat dari perubahan perilaku setelah bulan tersebut berlalu.
Secara bahasa, Syawal berarti “Peningkatan”.
Setelah ditempa di Ramadhan, kualitas ibadah (sholat tepat waktu, tilawah, sedekah) seharusnya meningkat atau minimal stabil, bukan justru menurun drastis.
Ust. Mumuh membagikan tiga strategi utama untuk menjaga konsistensi:
Istiqomah dalam Amal Kecil: Lebih baik sedikit tapi berkelanjutan (seperti puasa Syawal 6 hari) daripada besar tapi hanya sekali.
Menjaga Lingkungan: Tetap berkumpul dengan komunitas positif dan rutin menghadiri majelis ilmu.
Muhasabah (Evaluasi): Selalu memeriksa niat hati agar tidak terjebak dalam penyakit hati pasca-hari raya seperti kesombongan atau pamer (riya).
| Luas Bangunan | 144 m2 |
| Status Lokasi | Wakaf |
| Tahun Berdiri | 1980 |